Powered By Blogger

Rabu, 25 November 2015

Perlawanan Cirebon TAHUN 1802-1818 (PERANG KEDONDONG)



PERANG KEDONDONG TAHUN 1802-1818 Di CIREBON



              Dilihat dari lokasinya maka perlawanan petani dibedakan menjadi dua tempat, yaitu di pusat kerajaan dan di pinggiran. Daerah pinggiran biasanya dijadikan basis perlawanan. Namun, aliansi dua lokasi terjadi karena keduanya saling tergantung dalam memimpin dan mengalokasikan kekuatan menghadapi penguasa. Selain itu, konflik di dalam istana terus berkembang ke luar dan pecah sebagai gerakan pemberontakan petani di pedesaan. Pemberontakan rakyat Cirebon 1802-1818 merupakan ekspresi ketidakpuasan petani dalam bentuk gerakan pemberontakan yang meluas dari pusat kerajaan ke pedesaan.
             Protes sosial para petani Cirebon terjadi di daerah pertanian. Para petani merasa dirugikan oleh orang-orang Cina dan residen. Oleh karena itu, mereka melakukan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial dan mengadakan pembunuhan terhadap orang-orang Cina. Permasalahan kehidupan sosial-ekonomi yang lama terpendam dan buruk ini, Sistem persewaan desa dan penarikan pajak, memunculkan pemerasan oleh residen dan orang Cina, merupakan salah satu pemicu timbulnya pemberontakan rakyat Cirebon. akhirnya melahirkan kekuatan perlawanan menjadi besar dengan skalanya yang luas.
            Tahun 1802-1818 adalah waktu terjadinya rentetan pemberontakan, yang meletus pertama kali tahun 1802 dan berakhir tahun 1818. Pemberontakan tidak terjadi setiap tahun, namun ada dua periode pemberontakan besar yaitu tahun 1802-1812 pemberontakan dipimpin oleh Rangin dan periode tahun 1816-1818 pemberontakan dipimpin oleh Jabin dan Nairem.
Bersama para pengikutnya Bagus Rangin melakukan pemberontakan di Cirebon, bahkan sampai meluas ke luar karesidenan Cirebon. Dalam perjalanannya selanjutnya, Bagus Rangin hendak mendirikan negara Panca Tengah dan mengangkat dirinya sebagai raja dimulai dari tahun 1802
Gerakan pemberontakan ini menemui kegagalan setelah Bagus Rangin dan para pengikutnya ditangkap oleh pemerintah kolonial pada tahun 1812.gerakan pemberontakan rakyat Cirebon ini sempat muncul kembali di bawah pemimpin lainnya, yaitu pemberontakan tahun 1816 di bawah pimpinan Jabin (seorang ketua gerombolan dan pemberontakan tahun 1818 di bawah pimpinan Nairem.
            Dan hal ini serentak dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya hal tersebut maka hampir seluruh wilayah bergerak bertahap menghimpun kekuatan.Rangin(islam)danserrit(islam)darijatitujuh, Wariem(nonislam/kejawen)dan Ujar(islam) dari Biyawak, Sakti dan Kondur(nonislam/kejawen)dan jabin(islam) dari waringin, Rontui(nonmuslim/kejawen) dariSindanghaji ( Rajagaluh ), Nairem/narijem (islam) dan Samun(islam)danronodwiwongso(nonislam/kejawen) dari BaruangKulon, Bana(nonislam/kejawen) yangmenjadi Sekretaris Rangin dari Baruang Wetan,Sindung(nonislam/kejawen),cangga(islam) dari Sumber, Arsitem(islam) dari Loyang, Suara(islam) dariBantarjati, Sanda (non islam/kejawen)dari Pamayahan, Narim(islam) dari Leles, Jamani (islam)dariDepok, DemangPenangan (islam)dari Kandanghaur, DemangWargagupita(nonislam/kejawen) dari Kuningan,Wargamanggale(islam) dari Cikao, Wirasraya (islam)dari Manis, Jurangprawira(islam) dari Linggarjati,Jayasasmita(islam) dari Ciminding, Jangbaya(nonislam/kejawen) dari Luragung, Harmanis(islam) dari Cikao,Anggasraya(nonislam) dari Timbang, DemangJayaprawata(islam) dari Nagarawangi, Demang Angon Klangon(islam) dari Weru, Ingabei Marta Manggala (islam)dari Pagebangan, DemangJayapratala(nonislam/kejawen)dari Sukasari.
   


Sumberdari : https://www.facebook.com/notes/putra-hari/perang-kedondong-tahun-1802-1818-di-cirebon/538967442882539

Tidak ada komentar:

Posting Komentar